Pages

Sabtu, 10 Januari 2015

Sinopsis Novel Garuda Putih



GARUDA PUTIH
Dening : Suparto Brata

Garuda Putih yaiku durjana kang kondhang ing Surabaya. Akeh kadurjanan kang wis dilakokake. Ananging angel banget dicekel dening para polisi. Garuda Putih wis suwe dadi buronane polisi. Nanging dhweke julig, tansah nduweni cara kang cerdhik nalika gawe tindak kadurjanan
Kadurjanan keri dewe kang dilakokake dening Garuda Putih yaitu kasus Abisuna kang mati diprejaya Garuda Putih. Sadurunge Garuda Putih wis gawe kadurjanan gedhe ing Surabaya, dadi maling ana ing toko rajabranane Pak Suryapringga, Surabaya. Dheweke bisa njukuk bandha kang akeh tanpa bisa dicekel polisi. Sawise ngrampok Garuda Putih ninggal pesen kang tulisane “Sing njukuk aku, Garuda Putih!” ana ing serbet hotel ajeneng Hotel Argadalu. Polisi ngerasa ketantang ditinggali layang kaya ngono dening Garuda Putih. Karepe polisi nyekel Garuda Putih saya memba-memba.
Kasus kadurjanan ing toko rajabranane Pak Suryapringga durung beres, teka meneh kadurjanan  dening Garuda Putih kang kasil mrejaya wong selingkuh ana ing Hotel Tretes ajeneng Abisuna. Polisi digawe budreg maneh. Garuda Putih ra kecekel.
Abisuna yaitu salah sawijining pejabat pamrentah kang lagi tugas ana ing dhaerah cedhak Tretes. Abisuna pamit marang bojone arep lunga kaprelu tugas kepara seminggu, ananging malah nggawa wong wadon liya turu ana ing Hotel Argadalu, Tretes. Wong wadon iku jenenge Emi. Wong wadon langganan kang wis biasa dikontrak gawean ngancani turu wong liya. Ananging bojone Abisuna wis kongkon marang Bagus Pamutih supaya ngawat-awati tindak-tanduke Abisuna ana ing Hotel Argadalu. Bagus Pramutih uga dadi sasaran wong sing mrejaya Abisuna amarga pas mati, dheweke lagi nginep neng hotel kono kanthi kaprelu ngawat-awati Abisuna.
Abisuna katemokake mati dikendhat ana ing ngara-ara mburi hotel dening Manik lan Wicaksana, kang padha-padha dadi tamu hotel. Ana ing njero klambine Abisuna ana pesen kang tulisane “Paukumane kanggo wong slingkuh”. Tulisane iku persis karo tulisan ana ing pesene Garuda Putih nalika ngrampok toko rajabranane Pak Suryapringga. Iku ngapa sebabe kang disujana dadi pelakune yaiku Garuda Putih.
Pihak kepolisian kang dipimpin Kapten Muhajir digawe budreg maneh anggone ngrampungke perkara iki merga bukti kang diduweni ya mung padhane tulisan kang dinggo ngirim layang ana ing kadurjanane Garuda Putih. Pihak kepolisian kang ngrampungke perkara iki diewangi dening detektip kondhang, yaiku Detektip Handaka kang wasis anggone mbedhah perkara-perkara kadurjanan.
Detektip Handaka nyujani tunangane Rara Sumarni, yaitu Guritno. Rara Sumarni yaiku penakane Suhud kang nduweni hotel Argadalu. Perangane persis Garuda Putih sanajan jenenge disamar dadi Guritno. Detektip Handaka nyujani yen anggone nglakokake tindak kadurjanan Garuda Putih kui liwat Rara Sumarni kang cedhak karo wong-wongane hotel Argadalu.
Ananging kui mau mung lagi dadi sujanane pihak kepolisian lan Detektip Handaka. Ceritane gumantung amarga durung ana bukti kang kuat kanggo nyekel Garuda Putih.

Jumat, 09 Januari 2015

Arjunawiwaha

Arjunawiwaha


Kahyangan Bathara Indra sedang berada dalam ancaman seorang raksasa yang bernama Niwatakawaca. Ia sudah siap untuk menyerang dan menghancurkan kahyangan Bathara Indra. Niwatakawaca tidak bisa dikalahkan oleh siapapun baik Dewa maupun raksasa yang lain. Oleh karenanya, Bathara Indra memutuskan untuk meminta bantuan manusia untuk menghadapi raksasa itu. Pilihan jatuh kepada Arjuna putra tengah Pandawa yang saat itu sedang bertapa di gunung Indrakila.

Namun, terlebih dulu Bethara Indra menguji ketabahan Arjuna dalam melakukan pertapanya. Tujuh orang bidadari yang kecantikannya sudah tidak bisa diragukan lagi dipanggil untuk menjalankan tugas itu. Bidadari yang terpenting dari ketujuh bidadari tersebut adalah Suprabha dan Tilottama. Ketujuh bidadari tersebut diutus untuk menggunakan segala kemampuan dan kecantikannya untuk merayu Arjuna.

Suprabha dan enam bidadari yang lain pergi ke tempat Arjuna bertapa yaitu Gunung Indrakala untuk menunaikan tugasnya. Sampailah para bidadari yang kecantikannya sungguh menabjukan itu di gua tempat Arjuna bertapa. Mereka berusaha menggoda Arjuna dengan memperlihatkan segala kecantikannya dan dengan segala akal agar Arjuna bisa tergoda. Namun, usaha mereka tak sedikitpun memberikan hasil.  Tentunya mereka sangat kecewa, dan akhirnya mereka kembali ke kahyangan dan melaporkan kepada Bathara Indra.

Mendengar  laporan dari pada bidadari utusannya, Bathara Indra gembira, karena itu membuktikan bahwa Arjuna memang orang yang tepat dan pantas untuk dia pilih sebagai lawan Niwatakawaca. Tetapi Indra masih memiliki sedikit keraguan, dia masih bertanya-tanya apa sebenarnya tujuan Arjuna bertapa, apakah untuk memperoleh kebahagiaan dan kekuasaan untuk dirinya sendiri, sehingga ia tidak peduli degan keselamatan orang lain?

Bathara Indra kemudian turun tangan sendiri untuk hal ini, ia kemudian turun menghampiri Arjuna dan menyamar sebagai seroang resi tua yang telah pikun dan bungkuk. Resi tua jelmaan Bathara Indra memperolok-olok  dan mengunggah kesatriaan Arjuna , Arjuna kemudian menghentikan tapanya sebentar dan menyambut resi tua itu dengan penuh rasa hormat. Dalam pertemuan itu terjadi diskusi falsafi yang di dalamnya terpapar suatu uraian mengenai kekuasaan dan kenikmatan dalam makna yang sejati. Arjuna cukup memahami segala hal yang di paparkan oleh Bathara Indra, ia lalu menegaskan bahwa satu-satunya tujuan ia melakukan tapa brata adalah untuk memenuhi kewajibannya selaku seorang ksatria  serta membantu kakaknya Yudhistira untuk merebut kembali kerajaannya demi kesejahteraan dunia. Mendengar jawaban dari Arjuna, Bathara merasa puas dan yakin, maka ia mengungkapkan siapa dia sebenarnya. Bathara Indra kemudian kembali ke kahyangan, sementara Arjuna melanjutkan tapa bratanya.

Raja Raksasa mendengar apa yang terjadi di Gunung Indrakila. Ia kemudian mengutus seorang raksasa yang bernama Muka untuk membunuh Arjuna. Muka merubah wujudnya menjadi seekor babi hutan , dan mengacaukan hutan di sekitar Arjuna bertapa. Arjuna yang mendengar kegaduhan itu segera keluar dari guanya dengan membawa senjatanya. Pada saat yang sama, Bathara Siwa juga sudah mendengar bagaimana Arjuna bertapa, ia kemudian juga turun dalam wujud seorang pemburu dari suku Kirata.

Arjuna melepaskan panahnya untuk membunuh babi hutan yang membuat kerusuhan itu, dan pada waktu yang bersamaan pemburu Kirata jelmaan Siwa pun melakukan hal yang sama. Kedua anak panah mereka ternyata menjadi satu dan menewaskan babi hutan jelmaan Muka itu. Terjadilah perselisihan antara Arjuna dan pemburu dari Kirata itu, siapa yang membunuh Babi hutan itu. Terjadilah perdebatan yang sengit diantara keduanya dan akhirya mereka berkelahi. Arjuna hampir saja kalah, kemudian ia memegang kaki lawannya , namun pada saat itu wujud si pemburu lenyap dan Siwa menampakkan diri.

Bathara Siwa bersemayam selaku ardhanariswara “Setengah Pria, setengah Wanita”, di atas bunga Padma. Dengan penuh rasa hormat dan tulus Arjuna memujanya dengan suatu madah pujian dan yang mengungkapkan pengakuannya terhadap Siwa yang hadir dalam segala sesuatu. Siwa kemudian memberikan hadiah kepada Arjuna panah sepucuk panah yang bernama Pasupati. Arjuna juga diberikan pengetahuan gaib bagaimana mempergunakan panah itu.

Sementara Arjuna sedang berpikir apakah ia sebaiknya kembai ke sanak saudaranya, datanglah  dua aspara (makhluk setengah dewa, setengah manusia) utusan dari kahyangan yang membawa sepucuk surat dari bathara Indra. Isi dari surat itu, meminta kesediaan Arjuna menghadap untuk membantu para Dewa untuk membunuh Niwatakawaca. Arjuna menjadi ragu-ragu karena berarti ia akan lebih lama terpisah dari keluarganya. Namun, akhirnya ia menyetujui, kemudian mereka bertiga pergi ke kahyangan Bathara Indra.

Sesampainya di Kahyangan, tentu saja Arjuna disambut oleh para bidadari yang tergila-gila melihat ketampanannya. Bathara Indra kemudian menceritakan keadaan di Kahyangan akibat ulah Niwatakawaca. Raksasa itu hanya bisa dikalahkan oleh seorang manusia tetapi harus mengetahui titik lemahnya terlebih dahulu.

Bidadari yang akan mendapat tugas untuk peri ke istana dan mengetahui rahasia raksasa itu adalah Suprabha. Dia sudah lama menjadi incaran raksasa itu. Arjuna mendapat tugas untuk menemani Suprabha dalam melakukan misi tersebut. Arjuna menyanggupinya dan kemudian turun ke bumi.

Akhirnya mereka sampai di istana raja raksasa tersebut, disana sedang diadakan persiapan untuk perang melawan para Dewata. Suprabha awalnya merasa ragu apakah bisa menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya, namun Arjuna memberi semangat kepadanya bhawa ia akan berhasil asal ia mempergunakan segala rayuan seperti yang ia lakukan ketika menggoda Arjuna saat bertapa.

Suprabha kemudian menuju sebuah sanggar mestika (balai Kristal murni),  di tengah-tengah halaman istana. Sementara Arjuna mengikutinya, namun ia menggunakan aji supaya ia tidak terlihat oleh orang. Beberapa dayang yang sedang bercengkarama melihat kedatangan Suprabha dan menyambutnya dengan gembira sambil menanyakan keadaan kahyangan. Beberapa dayang tersebut dulunya juga berada di istana Indra. Suprabha menceritakan bahwa ia meninggalkan kahyangan atas kemauannya sendiri, karena ia tahu bahwa itu akan dihancurkan; sebelum ia bersama degan segala barang rampasan ditawan, ia menyebarang ke Niwatakawaca.

Dua orang dayang menghadap raja dan membawa berita yang memang sudah dinantikannya sekian lama. Sang raja langsung menuju taman sari dan menimang dengan memangku Suprabha. Suprabha menolak segala desakan Niwatakawaca yang penuh nafsu birahi dan memohon agar sang raja menunggu sampai fajar menyingsing.

Suprabha mencoba merayu dengan memuji kesaktian raja yang tak terkalahkan itu, lalu ia bertanya, tapa seperti apa yang bisa menjadikan ia dianugerahi kesaktian yang luar biasa. Niwatakaca terbujuk oleh rayuan Suprabha, dan membeberkan rahasianya. Ia mengatakanbahwa ujung lidahnya merupakan tempat kesaktiannya.

Ketika Arjuna telah mendengar pengakuan Niwatakawaca, ia kemudian meninggalkan persembuyiannya dan menghancurkan gapura istana. Niwatakawaca terkejut mendengar kegaduhan dahsyat itu, Suprabha menggunakan saat itu untuk melarikan diri bersama Arjuna.

Menyadari bahwa ia tertipu, meluaplah angkara murka sang raja, ia kemudian memerintahkan pasukannya agar segera berangkat untuk melawan para Dewa. Kahyangan diliputi rasa gembira karena Arjuna dan Suprabha bisa kembali dengan selamat terlebih Indra sudah berhasil mengetahui apa kelemahan dari Raksasa yang membuat onar di kahyangan. Para Dewa kemudian membicarakan taktik bagaimana untuk memukul mundur musuh, namun  hanya Indra dan Arjuna yang tahu senjata apa yang telah mereka miliki untuk menghancurkan lawan . Bala tentara para dewa, apsara dan gandharwa menuju ke medan pertempuran di lereng selatan pegunungan Himalaya.

Terjadilah pertempuran sengit, Niwatakawaca terjun ke medan perang dan mengobrak-abrik barisan para dewa yang dengan rasa malu terpaksa mundur. Arjuna yang berada di belakang barisan tentara yang mundur, berusaha menarik perhatian Niwatakaca. Arjuna pura-pura hanyut oleh tentara yang lari terbirit-birit, tetapi busur telah disiapkannya.

Saat raja raksasa itu mulai mengejarnya dan berteriak-teriak dengan penuh amarah, Arjuna menarik busurnya. Arjuna yang memang dikenal sebagai ahli dalam ilmu memanah, sasarannya tidak meleset sedikitpun. Anak panah yang dilepaskannya melesat masuk ke mulut raja raksasa itu dan menembus ujung lidahnya. Ia jatuh tersungkur dan mati.

Pasukan raksasa melarikan diri atau terbunuh, sementar para dewa yang tadinya mundur, kini kembali menjadi pemenang. Para tentara kahyangan yang tadinya mati dihidupkan lagi dengan air amrta.

Atas jasanya, Arjuna mendapatkan penghargaan dari kahyangan. Selama tujuh hari (menurut perhitungan kahyangan, sama dengan tujuh bulan di bumi manusiaia akan bersemayam bagaikan seorang raja di atas singgasana Indra. Selain itu, setelah ia dinobatkan, disusullah pernikahannya dengan tujuh bidadari. Yang pertama ialah Suprabha, ia mendapat hak pertama, karena ia sudah menempuh perjalanan yang penuh bahaya. Kemudian yang kedua, adalah Tilottama, dan kelima bidadari yang lain. Nama bidadari yang lain yang disebutkan adalah Palupy dan Menaka,sementara tiga lainnya tidak disebutkan. Dalam Serat Mintaraga karya Sunan Paku Buwana III, bidadari yang disebut adalah Gagarmayang, Supraba, Tilottama, Warsiki dan Warsini. Sedangkan dalam dua ceita yang berjudul Mintaraga (Mayer,1924:124), disebutkan hanya lima bidadari, yaitu Supraba, Wilotama, Warsiki, Surendra dan Gagarmayang.

Hari demi hari berlalu, Arjuna mulai gelisah, ia rindu dengan saudara-saudaranya. Ia mengurung diri dalam sebuah balai di taman dan mencoba menyalurkan perasaannya lewat sebuah syair. Hal ini tidak luput dari perhatian Menaka dan Tilottama. Dan yang terakhir, ia berdiri di balik pohon dan mendengar kesulitan Arjuna menggubah baris penutup bait kedua sayairnya. Tilottama lalu menamatkannya dengan sebuah baris yang lucu.

Setelah genap tujuh hari (tujuh bulan di bumi), Arjuna akhirnya pamit kepada Indra, ia kemudian diantar kembali ke bumi oleh Matali dengan kereta Sorgawi.

Kamis, 08 Januari 2015

Kumpulan Cerkak

BU GURU 



Yen  ing kampungku ana jeneng Bu Guru, sing dimaksud mesthi Bu Warsini garwane Pak Marno. Bu Warsini ora dadi guru, nanging dadi bojone Pak Marno sing dadi guru SD. Malah Bu Ratmi, Bu Jamilah sing ngasta dadi guru wae ora tau diundang Guru. Undang-undangane ya mung Bu Ratmi, Bu Jamilah ngono wae. Semono uga Bu Tarmi lan Bu Kasmi sing kakunge uga ngasta dadi Guru, undang-undangane ya ora Bu Guru, nanging mung Bu Tarmi lan Bu kasmi ngono wae.
Dadi yen ana wong ngomong Bu Guru, sing dikarepke mesthi Bu Warsini iku. Amarga ing kampungku sing dadi guru dhisik dhewe ya mung Pak Marno sing saiki wis pensiun iku. Senajan Pak Marno wis pensiun, Bu Warsini isih tetep diundang Bu Guru.
Njur apa critane Bu Guru, ya Bu Warsini iku? Critane Bu Guru iku ora duwe anak lanang. Nalika semana, anake lima wadon kabeh. Mangka jaman saiki anak lima iku ya wis kepetung akeh. Mula Pak Marno tansah ngandhani marang garwane iku, supaya melu ka-be. Yen manut istilahe Pak Wisnu, ka-be iku yen dijawakake dadi keluwarga rinancang. Nanging Bu Guru kipa-kipa ora gelem, amarga isih kepengin duwe anak lanang, Nganti Pak Marno judheg.
“0, alah Bu, mbok wis trima. Wong anakmu ya wis lima ngono. Mengko yen wis padha duwe jodho, kowe rak ya duwe anak lanang ta? Senajan mung anak mantu, rak ya padha wae ta; kuwi ya anakmu.”
“Ya beda Pak, anak mantu kok karo anak leh mbrejelke dhewe…”
“Bedane nggon ngendi? Apa yen anak mantu kuwi ora gemati? Akeh lho Bu contone, anak mantu utawa anak angkat kuwi malah luwih ngerti marang wong tuwa! Coba kae, Parmanto anak angkate Pak dhe Sastro kae, pendhak sasi sowan nggawa gula teh; isih oleh-oleh bandeng, endhog; mangka mengko yen mulih isih ninggali dhuwit. Balik anak-anake, endi sing ngerti karo wong tuwa? Mara pendhak bakda wae sok-sok ora?!”
“Embuh gemati embuh ora, ngerti karo wong tuwa apa ora, nanging rasane ora kaya yen duwe anak lanang dhewe, pak! Bisa dipamerke marang liyan gilo iki anakku sing lanang sing nggantheng, ah pokoke aku isih kepengin duwe anak lanang!”
“Ya uwis yen ora kena takkandhani. Wong dieman kok ora kena. Kudune kowe kuwi wis leren ora nglairake…..”
Aja maneh kok Pak Marno sing bojone Bu Guru, senajan Pak Ketua RT, Pak Ketua RW, apadene pak Bayan; kabeh padha nganjurake melu ka-be. Nanging Bu Guru tetep mbeguguk nguthawaton, ora gelem melu ka-be. Pak Marno ganti pekewuh saben-saben diparani perangkat kelurahan iku. Sidane bojone direpa-repa.
“Ya manuta pemerintah ta Bu, melua ka-be….”
“Wegah! Wegah tenan aku pak! Wong diaturi aku iki isih kepengin duwe anak lanang, kok dikon ka-be; pokoke aku gemang!”
“Mengko dhisik ta, aku iki ora malangi kekarepanmu duwe anak lanang, nanging aja mbangkang dhawuhe pemerintah ngono kuwi….”
“Lha trus piye, nek ora oleh mbangkang?”
“Dhaftarna ka-be nyang Bu Bidan, mengko njupuka pil wae! Mbokpangan pile ya kena, ora ya kena! Ning ketoke rak wis melu kabe, ngono lho karepku!”
“Dadi saben sasi mengko aku nyadhong jatah pil?”
“Ha iya! Bu Bidan rak ngira yen kowe wis melu ka-be tenan.”
“Ya wis, nek ngono aku ngalah. Ning aku aja mbok peksa melu ka-be tenan lho, Pak!”
“Ora-ora! Aku ora arep meksa. Kowe melu ka-be temenan kanthi kesadharan, aku malah seneng, ora arep meksa…:’
Bu Guru mencep krungu tembunge sing lanang mengkono iku.Sidane Bu Guru dhaftarake melu kabe temenan. Nanging mung ethok-ethokan. Saben sasi nyadhong jatah pil ka-be ing omahe Bu Bidan. Nanging pil cadhongan iku ora tau dipangan, nanging mung ditumpuk ing laci mejane. Bu Bidan ngira Bu Guru iku wis melu kabe temenan. Nyatane nganti wektu nem sasi Bu Guru durung katon ngandheg maneh.
Nanging sakbubare kuwi, Bu Guru wis ora nyadhong jatahe pil kabe maneh. Malah wis telung sasi dheweke ora ngaton ing omahe Bu Bidan. Mula Bu Bidan meneng-meneng mbatin marang Bu Guru. Ya gene garwane Pak Marno iku ora njaluk jatah maneh. Mula nalika pertemuan PKK, bab iku ditakokake marang Bu Guru.
“Bu Guru kok sakmenika mboten mendhet jatahipun pil kabe?”
Karo klimputan Bu Guru wangsulan setengah bisik-bisik. Ngapunten Bu Bidan, kula kebobolan malih. Kesupen mboten nedha pil tigang dinten, lha kok ngandheg malih,….”
“Wooo…,ngaten ta?” Bu Bidan mlenggong semu maido.
“Kula rumiyin rak sampun matur, menawi kesupen mboten dhahar pil ka-be, pendhak dintenipun dipundhobeli….”
“Wong kemutan-kemutan sampun tigang ndinten kok, Bu! Dospundi malih?!
Nanging Bu Bidan ora arep ndedawa crita, malah batine – priksa karepmu, ora mriksakake ya sakkarepmu-, akibate mboktanggung dhewe.
Nyatane sajerone ngandheg sangang sasi Bu Guru mung mriksakake kaping pindho. Mula ora mokal yen anggone nglairake rada rekasa. Bu Bidan ora saguh nangani. Sidane Bu Guru digawa menyang rumah sakit, amarga mung dhokter sing keconggah nangani.
Diinfus nganti ngentekake pirangpirang botol, parandene bubar nglairake meksa katon nglentrih tanpa daya amarga kentekan tenaga. Malah kober ora eling barang. Tujune isih bisa dislametake. Ya mung rada akeh wragad sing kudu diwetokake.
“Putra njenengan estri,” ngendikane dhokter ngandhani.
Sing dikandhani ora wangsulan. Mripate kethap-kethip. Ngertia yen anake iku bakal metu wadon maneh, athuka dheweke rak melu ka-be temenan, ora ethokethokan kaya dhek emben. Bu Guru gegetun, nanging wis kebacut.
Sidane kanthi kesadharan dheweke njaluk disteril pisan. Bu Guru lagi pasrah marang panguasane Sing Maha Kuwasa sing nakdirake dheweke ora duwe anak lanang. Bu Guru wis bisa mupus.
Saiki pepenginane duwe anak lanang genti malih dadi kepengin duwe putu lanang, amarga anake mbarep wis omah-omah taun kepungkur. Mula pepenginane iku dikandhakake marang Ndari sing cekel gawe dadi guru SD.
“Aku wis trima kok Ndhuk ora diparingi anak lanang! Ning muga-muga wae anakmu mbarep iki mbesuk metu lanang…”
“Ah, Ibuu….’ wong kula kepengine anak estri kok!”
“Sebabe?”
“Ha inggih, anak estri menika umumipun mboten nakal. Umur nem taun sampun saged dipunkengken…Yen anak lanang?”
“Nanging ora kaya nek anak wadon duwe, anak lanang ya duwe. Gandheng anakku nenem wis wadon kabeh, sirku anakmu kuwi tak suwun metua lanang; ngono lho!”
“Ha-ha-haa, Ibu ki aneh! Wong kula sing arep diparingi momongan, kok njenengan sing nyuwun!”
“Witikna, anak nenem wadon kabeh;lumrah ta nek njur kepengin putu lanang?”
“Nggih mugi-mugi kadumugen kepengin panjenengan, Bu!”
Ndari – mbarepe Bu Guru iku – ngalahi rembug. Nanging batine tetep kepengin duwe anak wadon.
Temenan. Bareng jabang bayi lair, jebul metu wadon. Ndari rumangsa lega dene anake mbarep metu wadon temenan. Kosok baline Bu Guru sing mbrabak arep nangis. Kaningaya temen uripku! Kepengin duwe anak lanang ora klakon, ngarep-arep putu lanang, jebul malah wadon maneh.
Putune Bu Guru wis umur telung taun. Wong wadon iku gemati banget marang putune iku. Senajan wadon, rasane beda momong anak karo momong putu. Seminggu wae ora weruh putune, mesthi wis mara niliki. Malah nganti kepara nglalekake marang anak-anak liyane. Kala mangsane padha diece dening anak-anake.
“Ibu ki jare ora seneng putu wadon, ewadene kok kaya ora ana dina gothang, mesthi niliki putune….” ature anake ragil.
“Hus, kowe kuwi durung ngrasakake duwe putu, coba mbesuk yen wis diundang Mbah kakung, rasakna!”
Yen wis ngrembug prekara putu, banjur mrembet-mrembet tekan ngendi-endi. Pak Marno barang sok melu nimbrung rembug. Geguyonan ngono iku dadi kerep kedadeyan. Bu Guru dikroyok anak-anake lan bojone. Malah Pak Marno sing pinter dhewe mbebeda.
“Yen manut ramalanku, anake Ndari sing nomer loro iki metu lanang bakale. Kowe nadhzar apa, Bune?” kandhane Pak Marno.
“Embuh Pak, ora nggagas putu lanang! Wedok ya ben, lanang ya ben!” wangsulane Bu Guru nyenthe-nyenthe, jalaran rumangsa dibebeda dening bojone.
“Wong ditakoni apik-apik, kok wangsulane kaya ngono “
Sauntara iku ana nom-noman mudhun saka sepedha motor, sajake kongkonane Ndari anake wadon. Mlebu ngomah langsung kandha.
“Nyaosi priksa, Mbak Ndari babaran!”
“Hah, Ndari nglairake, lanang pa wadon?”
“Jaler!”
Krungu anake Ndari lanang, sakala Bu Guru lunjak-lunjak karo nangis ngguguk. Lagi iki pepenginane duwe putu lanang kelakon.*
Dening:Nurmin/ Panjebar Semangat-05/2006

  AKU DURUNG KALAH


Ngadeg  neng tlampik omah pancen dadi kesenenganku saben sore. Namatake sesawangan nalika srengenge meh angslup. Manuk-manuk padha mulih neng susuhe, mabur renteng-renteng neng langit sing wiwit mbrabak abang ndadekake sesawangan katon endah. Sanajan sesawangan dikebaki karo gedhong-gedhong dhuwur nantang langit.
Mung siji kuwi sing bisa gawe ilange rasa sayah sak wise nyambut gawe sedina ngrampungake tugas-tugas kantor sing kaya-kaya ora ana lerene. Mengko sedhela mesti bakal keprungu swara mbrenginging saka dalan ngarep omah ning komplek perumahanku. Pak Wiryo. Bakul puthu bumbung nyurung grobage, mlaku alon saka kidul. Yen wis tekan ngarep omahku mesti mandheg karo cluluk “Puthu Mas ” Aku banjur mbukak pager, mangan puthu karo lungguh ing buk ngarep omah. Pak Wiryo uga mandheg. Ngladeni wong wong ing komplek perumahan sing padha tuku puthu bumbung.
Pak Wiryo padha karo aku. Padha-padha wong sing nyoba golek panguripan ing kutha kene, sing jarene nggon duwit. Mung bedane, aku bisa tuku omah, duwe rodha papat gaweyan Jepang modhel sing paling keri dhewe, nyambut gawe ning kantor sing ruwangane adhem.
Pak Wiryo crita, yen omahe ana ing mburi lapangan golf. Saben esuk lan sore nalika mangkat lan mulih saka kantor aku mesthi ngliwati tugu gedhe. Ngisor tugu kuwi ana dalan sing dawane watara rong kilonan tumuju menyang lapangan golf. Aku pancen durung nate weruh. Nanging aku bisa mengerteni yen omahe Pak Wiryo mesthi sawijining kampung nempel karo tembok pager lapangan golf. Ora bisa diselaki yen panggonan-panggonan ngono kuwi bisa nekakna dhuwit yen digarap dening investor. Kompleks sandhinge panggonane Pak Wiryo wis digusur arep kanggo ngambakna lapangan golf. Wong-wong diwenehi ganti rugi sak cukupe (jenenge wae ganti rugi, mesti ya sak cukupe). Coba yen jenenge diganti ‘ganti untung’. Mula akeh wong-wong kampung kana sing ora sarujuk karo pembebasan tanah kuwi.
“Krungu-krungu jare lapangan golf arep diambakna Pak?” Pak Wiryo mung mesem krungu pitakonku, sajake wis ngerti apa karepku. Aku mbacutake takon maneh.
“Lah yen lapangane diambakna, terus kampunge sampeyan digusur piye Pak?”
“Nggih kersane napa ingkang kedadosan mangke, Mas. Digusur nggih pindah, wong pancen mboten gadhahane.”
Pak Wiryo terus ngladeni wong tuku. Aku mangan puthu sing mung kari siji ning tanganku. Aku gumun dene Pak Wiryo yen ngomong karo aku nganggo basa alus. Mangka Pak Wiryo umure ora beda adoh saka bapakku Nalika aku pisanan tuku puthu banjur dadi langganan, Pak Wiryo malah rikuh aku ngomong nganggo basa alus. Karepku mono ngajeni wong tuwa, kaya sing diajarake bapakku, yen aku kudu ngajeni wong sing umure luwih tuwa, sapa wae kuwi.
“Panjenengan niku lho Mas, wong priyayi ageng kok ndadak basa lho kalih kula.”
Oalah, donya kuwi jebule pancen isih mbedakna drajat, pangkat lan donya. Mula saka kuwi aku duwe panemu yen aku klebu wong begja. Lair ning kluwarga sing ana lan bisa ngrasakna kamukten urip. Sanajan ora nganti sugih mblegedhu, nanging sakora-orane yen kepengin apa-apa bisa keturutan.
Nanging wong sing kaya Pak Wiryo, menawa biyen bisa milih, mesti ora kepengin lair neng donya dadi wong sing kudu nyambung urip kanthi rekasa. Kaya-kaya kasunyatan kuwi gelem ora gelem kudu diadhepi.
Sejatine miturut panemuku, mbuh kuwi bener mbuh ora, kasunyatan sing kaya ngana kuwi wis digarisna dening sing Maha Kuwasa supaya urip ing donya bisa laras. Sing gedhe nulung sing cilik, sing kuwat mbiyantu sing ora kuwat. Nanging kaya apa sing kedadeyan? Ing jaman saiki sing dumadi, sing gedhe mangan sing cilik. Sing kuwat ngidak-idak sing kesrakaat. Donya, pangkat lan drajat sing dadi ukuraning urip.
Pak Wiryo, lan wong-wong sing manggon ning mburi lapangan golf sing kudu minggir amarga dianggep ora ana maneh nilai ekonomise kanggo pembangunan kutha. Nanging wong kaya Pak Wiryo arep ngapa? Bisa apa? Ora ana sing dinggo ngomong sora nalika ganti rugi sing ditampa kuwi, ajine ora sepiraa.
“Pak, wong puthune sampeyan enak. Piye yen tak silihi modhal, terus gawe home industri, puthune diwenehi cap terus didol nyang supermarket?”
“Wah, mangke yen kula mboten ider mriki malih, njenengan kangelan ndadak pados puthu teng supermarket,” Pak Wiryo ngguyu latah-latah.
“Kula ngaten mawon sampun rumaos cekap kok Mas. Sing penting saged damel urip lan nyekolahke anak. Wong kula niku nggih mboten gadhah warisan napa-napa kangge anak kula. Sak mboten-botene, nek kula dadi bakul puthu, anake kula nggih sampun ngantos kados bapake.”
Biyen aku nate nawani Pak Wiryo, supaya anake nyambutgawe neng pabrik nggonku. Kebeneran nalika kuwi unitku butuh karyawan anyar. Aku malah ngomong yen anake mesti ditampa, awit sing nggawa aku. Ora usah gawe lamaran. Karepku nulung Pak Wiryo, tinimbang anake nganggur.
“Golek gaweyan saiki angel lho Pak.”
“Wong tiyange tesih sekolah kok Mas.”
“Rak wis lulus SMA ta?”
“Lha nyuwun kuliah niku Mas. Ning, niki jarene mpun ajeng nulis napa… niku, skripsi napa,… Duka napa jenenge. Pokoke mpun meh rampung…kantun setunggal niku.” Skripsi? Anake Pak Wiryo kuliah? Apa kuwat Pak Wiryo nguliahake anake? Kuwi mung tak batin wae. Kuwatir yen Pak Wiryo mengko tersinggung.
Wis meh rong minggu iki ora keprungu swara mbrenginging, saka grobag puthune Pak Wiryo. Aku ora ngerti kena apa Pak Wiryo ora katon liwat ning dalan ngarep omahku. Apa Pak Wiryo lara? Apa omahe digusur? Kaya ana sing kongkon, aku noleh kiwa dalan.
Sore kuwi aku nembe mulih saka kantor. Aku ngerem mobil ndadak. Ora maelu kendaraan-kendaraan ning mburiku sing padha ngunekna klakson. Stir dak buwang mengiwa menggok mlebu ning jurusan lapangan golf. Ning sawijining gang aku mandeg. Kepeksa mudhun saka mobil awit dalane ora bisa diliwati mobil. Aku mlaku saurute pager sisih njaba lapangan golf sing durung rampung digarap kuwi.
Aku yakin, dalan kuwi sing saben dina diliwati Pak Wiryo. Nyawang mengarep. Rodha-rodha traktor nggiles ngratakna lemah. Akeh wong nganggo helm kuning. Ning panggonan liya, ora adoh saka kana, ana wong-wong padha nglumpukna kayu-kayu tilas omah, seng lan barang-barang liyane sing isih bisa dienggo. Aku ora ngerti apa wong-owong kuwi sing duwe omah sing digusur apa mung pemulung sing nggoleki barang-barang tilas. Sing tak ngerteni, kampung kuwi wis rata karo lemah. Lan omahe Pak Wiryo mesti klebu salah sijine omah sing dadi mangsane buldoser.
Srengenge manglung mengulon. Alon-alon aku ninggalake papan panggonan kana. Perusahaanku ya duwe buldoser kaya ngana kuwi.
Kelingan karo Pak Wiryo, karo wong-wong sing mung bisa nyawang omahe diratakna karo lemah. Wong-wong sing kalah dening ukeling jaman. Kalah karo panguwasane dhuwit. Wong-wong sing kanggo tumbal modernisasi lan kapitalisme. Apa kemajuwan jaman kudu mesti ana sing dikurbanake? Aku kelingan, atasanku wingi uga ngomong, yen sawah mburi pabrik duweke penduduk wis dibebaske arep dinggo mbangun unit anyar.
Srengenge mbranang ing langit sisih kulon. Manuk-manuk mulih menyang susuhe. Cagak-cagak listrik, gedhung-gedhung tingkat njenggereng mandeng langit. Layangane bocah-bocah cilik jogedan sajak ngece. Sore kuwi, kaya biasane aku ngadeg neng ngarep omah. Nanging wis ora ana maneh swarane mbrenginging saka grobage Pak Wiryo. Wingi aku krungu kabar yen Pak Wiryo digawa anake menyang Batam. Anak sing nate tak tawani gaweyan biyen, wis lulus kuliah. Cumclaude! Dheweke dijaluk sawijining perusahaan Singapura ing Batam. Aku kelingan marang apa sing nate diomongna Pak Wiryo: “Yen nyawane kula tesih kanthil teng raga Mas, kula dereng kalah….”(*)
Dening:A.Adi/ Panjebar Semangat-04/2006